Email : uin@ar-raniry.ac.id | Telpon : +651-7557321

UIN Ar-Raniry Gelar Seminar Internasional Bahas Kontribusi Tasawuf bagi Peradaban

Banda Aceh – Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry menyelenggarakan seminar internasional tentang kontribusi tasawuf dalam membangun peradaban modern. Seminar yang menghadirkan pembicara dari berbagai negara ini berlangsung di aula utama lantai III Biro Rektor dan dibuka Rektor UIN Ar-Raniry, Prof. Dr Farid Wajdi Ibrahim, MA yang diwakili wakil rektor I, Dr Muhibuthabry, M.Ag, Senin, (13/11).

Dari luar negeri, pembicara yang diundang yaitu Dr Muammar Ghaddafi Hanafiah yang menyampaikan presentasi dengan judul “Pemetaan Sanad Tarekat Rohani Syiah Kuala”. Berikutnya yaitu Prof Madya Dr M. Syukri Yeoh akan menyampaikan materi tentang “Manhaj Tarekat Rohani Syiah Kuala”. Keduanya berasaldari Universiti Kebangsaan Malaysia. Berikutnya Prof Madya Dr Arief Salleh Rosman dari UTM Malaysia dengan judul “Amalan Tahlil Yasin Syiah Kuala”.

Sementara dari dalam negeri, para pembicara antara lain Dr Damanhuri Basyir, M.Ag dari UIN Ar-Raniry yang menyampaikan makalah dengan judul “Falsafah Zikir Tarekat, Kajian Kitab Umdat karya Abdurrauf As-Singkili”. Selanjutnya dr Muhammad Sofyan dari UIN Sumatera Utara yang akan menyampaikan makalah dengan judul “Dari Tasawuf menuju peradaban, telaah terhadap 44 wasiat Tuan Syeikh Abdul Wahab Rokan”.

Selain itu juga terdapat pemakalah lainnya darii UIN Gunung Djati, UIN Sunan Kalijaga, Universitas Malikussaleh, IAIN Malikussaleh dan sejumlah nama lainnya dari UIN Ar-Raniry seperti Dr Jabbar Sabil, MA yang akan mempresentasikan makalah berjudul “fitrah sebagai kerangka epistemologis intergrasi fiqh dan tasawuf”.

Prof Dr Syamsurl Rijal yang tampil sebagai keynote speaker (pembicara kunci) mengatakan, manusia modern memiliki cara berfikir rasional, pengembangan ilmu yang semakin dinamis, sikap hidup pun cenderung dinamis dan futuristik.

“Namun, disamping hal yang menggemberikan tersebut, kecenderungan kehidupan kontemporer itu sekaligus juga menyeret manusia menjauh dari Tuhan, terjadinya kegersangan spirutal, kecenderungan hidup yang hedonis dan pragmatis, persaingan yang mengacu pada transpersonal, terjaidnya ketidakseimbangan hidup yang menghilangkan esensi kemanusiaan. Semua akan menemukan substansi jatidiri dengan pendekatan tasawuf transformatif, “ ujar Prof Syamsul Rijal.

Sementara itu, tambah Prof Syamsul Rijal, kompleksitas eksistensi manusia tidak bisa dilepaskan dengan nilai transendental, manusia butuh sikap mistis, mendekatkan diri dengan Tuhannya, bukan sebaliknya superioritas rasional yang menjauhkan diri mereka dengan Tuhannya.

“Di sinilah substansi tasawuf menjadi penting, dimana sikap muraqabah membangun kedekatan manusia dengan Tuhan haruslah bersifat transformatif dimana sosok personalitas itu haruslah memilki kesadaran sosial dalam bentuk membangun kepedulian transpersonal dalam kohensi sosial yang kokoh yang terbangun oleh karena nilai transendental yang dimiliki oleh manusia itu sendiri, “ kata Prof Syamsul Rijal.

Sementara itu, sebelumnya, ketua panitia acara, Dr Damanhuri Basyir, M.Ag dalam sambutannya menyampaikan beberapa landasan penyelenggaraan seminar ini, antara lain yaitu karena terjadinya krisis hubungan manusia dengan sang Khalik (Pencipta) yang akhirnya melemahkan moral dari pribadi-pribadi ummat. Dikatakan juga, terjadinya kritis ukhuwah yang ditandai  lemahnya semangat persatuan ummat, serta terjadinya krisis hubungan agama Islam dengan negara.

“Atas realitas persoalan ini, disini kita harakan para ulama tasawuf agar berfungsi sebagai muaddib, atau pendidikan yang berlandaskan pada konsep tarbiyah ala minhajin nubuwah. Ulama diharapkan dapat mendidik sehingga bisa meningkarkan kualitas keberagaman ummat. Ulama, juga diharapkan tampil sebagai pemersatu, sekaligus sebagai pembaharu yang membawa semangat perubahan melalui semangat keadilan dan kebijaksanaan, “ ujar Dr Damnhuri.

Damanhuri juga menjelaskan, kegiatan seminar internasional ini diberi nama ISTANA-I. Terdapat 33 pemakalah yang akan tampil dengan sesi masing-masing pemakalah di tiga ruangan paralel di Fakultas Ushuluddin dan Filsafat.

Sebelumnya, di awal acara, Dr Mubuthabry, M.Ag dalam sambutannya berharap agar fakultas Uhusuluddin bisa mengambil langkah cepat dalam membangun kreativitas dosen dan mahasiswa. Ia berharap, Fakultas Ushuluddin suatu saat menjadi pilot project pengamalan tasawuf yang integratif.

“Dalam konteks dunia modern, integrasi lahiriyah dan batiniyah menjadi hal yang sangat penting dalam menuju insan kamil. Saya berharap, kalau kita ingin lihat karakter manusia yang baik, maka lihatlah di Ushuluddin. Kalau ingin melihat mahasiswa yang hafiz dan menguasai ilmua-ilmu Alquran, maka pergilah ke Ushuluddin, “ ujar Muhibuthabry berharap. [zulkhairi]

 

1 Komentar


Fairus fairus.mainuri@gmail.com | 14-11-2017 04:01:56

Sekadar memberikan masukan. Untuk informasi bersifat straight news seperti berita tentang perhelatan seminar tasawuf di atas, sebaiknya tidak ditulis panjang. Cukup 4-5 paragarf saja dengan memuat seluruh unsur 5W+H+2S. Jika dirasa semua penting, dipecahkan saja menjadi beberapa judul berita. Ini untuk menghindari kejenuhan dari pembaca website ini yang umumnya hanya membutuhkan garis-garis besarnya saja. Terima kasih.