Email : uin@ar-raniry.ac.id | Telpon : +651-7557321

ZAHRUL MAHASISWA HES IKUT KKN BERSAMA DI BANGKA

FSH AR-RANIRY| - Sebanyak 150 mahasiswadari 23 Perguruan Tinggi Negeri (PTN)  di wilayah Indonesia bagian Barat dan 5 diantaranya berasal dari UIN Ar-Raniry Banda Acehyang melaksanakan KKN Bersama selama35 hari mulai tanggal 26Juli s/d 31Agustus 2017 di Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung telah menyelesaikan pengabdiannya. Namun masih menyisakan banyak kesan di masing-masing desa. Mereka di tempatkan  di 5 desa yang berbeda yaitu Desa Penyamun, Desa Gunung Muda, DesaRukam, Desa Paya Benua dan Desa Cengkong Abang.

Tentunya setiap mahasiswa memiliki kesan tersendiri, salah satunya Zahrul Fajri, Mahasiswa jurusan Hukum Ekonomi Syariah yang mengaku merasa terkesan dengan keramahan budaya bangka.

“Saya merasa kagum dengan orang Bangka, orang Bangka Itu ramah-ramah. Baru saja kenal tapi sudah dianggap seperti keluarga sendiri. Diajak kerumah, disuruh makan dan anggap seperti rumah sendiri. Dalam hal memuliakan tamu bangka hampir mirip dengan Aceh yang mempunyai adat Pemulia Jamee.” Ujar Zahrul

Banyak hal yang bisa di kagumi di Bangka, seperti Tradisi berbalas pantun, Adat Nganggungata udina makan sepintu sedulang, kehidupan yang sederhana, keramah tamahan, kepedulian dan lain-lainnya

“Kalau udah sepintu sedulang kami bisa kenyang makannya, makanannya enak-enak. Biasanya Nganggung itu pada perayaan hari besar Islam, penyambutan tamu-tamu penting dan di hari ke-7 meninggalnya salah seorang warga, setiap warga membawa satu dulang (nampan khas Bangka yang terbuat dari daun) ke masjid yang didalamnya berisi ayam goreng dan lauk lainnya, nganggung ini sangat mencerminkan nilai-nilai kebersamaan, saling membantu antarwarga dalam satu kampung. Kehidupan di Bangka juga sederhana, jarang kita jumpai rumah-rumah mewah apalagi yang bertingkat, tetapi kalau kita lihat kantongnya pada berduit semua. ” ujar Zahrul sambil terseyum

Namun dalamhalpendekatandengan orang Bangkaagaksedikitberbeda, orang Bangkalebihsukaditegurataudisapaduluan baru setelah itu mereka mulai akrab.

“Orang Bangka itu terlihat sombong kalau gak disapa duluan, tapi kalau udah disapa malah sebaliknya mereka sangat ramah bahkan kita dianggap seperti keluarganyasendiri. Contohnya saja anak karang taruna yang awalnya kami anggap sombong, tapis etelah disapa dan berbincang-bincang kami malah diajak kemana-mana baik itu ke kebun, tempat limbang timah, kulong bahkan hingga ketempa twisata dan mereka menjadi patner kami dalam membangun desa selama 35 hari. “ujar Zahrul

Di akhir masa pengabdian keramahan dan rasa kekeluargaan juga semakin terasa, dimana semua peserta kkn dibekali oleh-oleh dari warga setempat dan dipenuhi isak tangis.

“Pas perpisahan kami nenteng banyak oleh-oleh, ada yang dikasih lada, getas, kemplang, dan buah-buahan lainnya khas Bangka. Padahal kami tau bahwa ada sebagian oleh-oleh bukan produksi sendiri tetapi dibeli warga dari pusat jajanan oleh-oleh. Saat penjemputan tiba semuanya menangis baik itu warga maupun mahasiswa kkn, rasanya belum mau berpisah. Saya salut dengan orang Bangka dan budayanya, bahkan ketika pulang pun agak berat melangkahkan kaki dari Bangka.” tutup Zahrul

 

0 Komentar