Email : uin@ar-raniry.ac.id | Telpon : +651-7557321

Mahasiswa Harus Kawal Pilkada Aceh 2017

BANDA ACEH: Mahasiswa diminta untuk mengawal tahapan Pilkada Aceh 2017 sehingga potensi kecurangan bisa diminimalisir. Demikian seruan Kepala Kesbangpol dan Linmas Povinsi Aceh Drs. Saidan Nafi, S.H., M. Hum dalam Diskusi Publik tentang Isu Agama dan Potensi Konflik Pilkada Aceh 2017 yang di gelar Program Studi Sosiologi Agama UIN Ar Raniry bekerjasama dengan Aceh Development Watch di Aula Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Kamis 27 Oktober 2017.

Menurut Saidan Nafi, status rawan Pilkada Aceh yang di rilis oleh beberapa lembaga menunjukkan adanya potensi konflik. Karena itu, Saidan berharap semua komponen masyarakat Aceh termasuk mahasiswa terlibat aktif mengawal Pilkada agar potensi konflik tidak menjadi konflik seperti diprediksikan banyak pihak.

“Mahasiswa wajib mengawal tahapan demi tahapan dalam Pilkada agar kecurangan tidak terjadi,” seru Mantan Kepala BNN Aceh.

Sementara itu, Sahlan Hanafiah mengatakan bahwa gesekan dalam Pilkada kali ini sangat mungkin terjadi karena mantan pejuang terbelah dalam beberapa pasangan calon. Menurutnya, banyaknya kandidat dari mantan pejuang akan mudah menimbulkan gesekan di lapangan. Karena itu Sahlan berharap para kandidat tidak saling mengklaim bahwa dirinya lah yang paling berjasa dulu.

“Agar tidak menimbulkan gesekan di bawah, saya berharap para paslon tidak saling mengklaim jasa dalam perjuangan dulu,” kata Sahlan Hanafiah yang aktif di Pusat Studi Perdamaian dan Resolusi Konflik UIN Ar-Raniry

Hal senada juga disampaikan oleh Peneliti Forum Koodinasi Penanggulangan Terorisme Aceh Mukhlisuddin Ilyas, MA. Menurut Mukhlisuddin, untuk menciptakan pilkada yang damai, paslon harus mampu membangun komunikasi yang santun agar masyarakat di bawah sejuk dalam menghadapi Pilkada.

“Saya kira komunikasi politik paslon sangat menentukan pilkada yang aman dan damai,” kata Mukhlisuddin.

Terkait isu agama dalam Pilkada Aceh 2017 menurut Mukhlisuddin akan tetap muncul mengingat Aceh adalah wilayah Syariat Islam.

“Aceh kan daerah Syariat Islam. Semua paslon pasti akan menggunakan isu agama dalam materi kampanyenya. Minimal mereka mengaku akan memperkuat Syariat Islam di Aceh,” kata Mukhlis lagi

Namun Mukhlisuddin berharap agar isu agama tidak digiring ke arah negatif, seperti menyudutkan atau mengkafirkan pihak lain.

Diskusi yang digelar Program Studi Sosiologi Agama selain diikuti oleh mahasiswa, juga hadir aktivis LSM, peneliti, dosen, perwakilan parpol dan awak media. [sh]

 

0 Komentar