Email : uin@ar-raniry.ac.id | Telpon : +651-7557321

Zakat Profesi dalam Perspektif Ulama Aceh Dan Pengaruhnya Terhadap Potensi Perolehan Zakat

Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh telah meluluskan M. Jamil Ibrahim (24121633-3) sebagai Doktor ke 48 Pascasarjana UIN Ar-Raniry. Dalam sidang terbuka Promosi Doktor pada hari Selasa (27/12/16) bertempat di Aula Pascasarjana UIN Ar-Raniry Lantai III. Beliau mempertahankan Disertasi yang berjudul “Zakat Profesi dalam Perspektif Ulama AcehDan Pengaruhnya Terhadap PotensiPerolehan Zakat

Dr. M. Jamil Ibrahim, M.H yang lahir Lueng Putu, Pidie Jaya 01-09-1952 merupakan Ketua Pengadilan Tinggi Agama Manado, yang telah berhasil meraih gelar doktor dengan predikat yang sanggat memuaskan. Pada sidang terbuka tersebut Dr. M. Jamil Ibrahim, M.H mendeskripsikan tentang disertasinya yang berjudul “Zakat Profesi dalam Perspektif Ulama AcehDan Pengaruhnya Terhadap PotensiPerolehan Zakat”.sebagai berikut :

Zakat profesi adalah jenis zakat baru dari hasil ijtihad para ulama berupa hasil pendapatan,penghasilan pekerjaan atau keahlian profesional tertentu, baik yang dilakukan sendiri maupun bersama atau lembaga. Keberadaan zakat profesi telah mendapat payung hukum yang jelas dan kuat baik melalui undang-undang, Perda/qanun, maupun fatwa-fatwa ulama di Aceh.Seharusnya penerapan zakat profesi di Aceh sudah dapat berjalan dengan lancar dan maksimal, serta berpeluang besar menjangkau berbagai sektor profesi yang beragam sesuai dengan kondisi alam yang kaya dan makmur.Namun kenyataannya, potensi itu belum dapat digali dan dimanfaatkan dengan maksimal dan hanya terbatas pada zakat gaji Pegawai Negeri Sipil (PNS), di luar itu belum tersentuh memperlihatkan kiprahnya. Hal ini terjadi di antaranya kesadaran  masyarakat masih kurang dan ulama di Aceh juga belum kompak tentang hukum zakat penghasilan atau profesi ini. Penyebab perbedaan pendapat tersebut berkisar tentang alasan zakat itu wajib, karena tidak ada perintah dan contoh pada masa Rasulullah, serta tidak pernah dibahas dalam kitab-kitab fiqh yang dipelajari di Aceh. Implikasi dari perbedaan tersebut sedikit banyaknya mempengaruhi pengumpulan zakat profesi di tengah-tengah masyarakat. Bagaimana zakat profesi dalam fiqh Islam dan bagaimana pandangan ulama Aceh serta latar belakang perbedaan pendapat dan bagaimana pengaruhnya terhadap pengumpulan zakat profesi.

Dari hasil penelitian beliau bahwa zakat profesi adalah masalah ijtihadiyah dan perbedaan pendapat ulama adalah wajar terjadi.Akan tetapi ketika zakat profesi telah ada ketentuan Pemerintah melalui undang-undangtingkat nasional dan dan qanunpada tingkat daerah,tentunya perbedaan tersebut harus dikesampingkan. Karena kebijakan pemerintah untuk suatu kemaslahatan adalah dibenarkan syara’.(ar)

 

0 Komentar