Email : uin@ar-raniry.ac.id | Telpon : +651-7557321

Direktur PTKI Kemenag RI: Penelitian Kolaboratif Harus Digalakkan

[Pasca-UINAR] Pascasarjana UIN Ar-Raniry bekerjasama dengan LP2M UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, International Centre for Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS), dan Poros Darussalam mengadakan Simposium hasil sementara penelitian tentang Contending Modernities Aceh (CMA) yang bertema “Religious Authorities, Minorities, and Identities: Intra-Islamic and Inter-Religious Relations in Post-Conflict Aceh, Indonesia” pada hari Sabtu (23/12/2017) di Ruang Sidang Direktur Lt 2 Gedung Pascasarjana UIN Ar-Raniry. Acara ini menghadirkan tiga orang narasumber: Prof. Arskal Salim (Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam), Prof. Eka Srimulyani (Dekan Fak. Psikologi UIN Ar-Raniry) dan Dr. Moch. Nur Ichwan (Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta). Hadir pula beberapa pakar dalam bidang Islam di Aceh sebagai pembahas yaitu: Prof. Hamid Sarong, Prof. Misri A. Muchsin dan Dr. Aslam Nur. Ketiga-tiganya merupakan dosen dari UIN Ar-Raniry. 

Dalam sambutannya saat membuka acara, Direktur Pascasarjana UIN Ar-Raniry menyampaikan apresiasi kegiatan ilmiah serupa ini. 

"Saya menyampaikan rasa terima kasih sebanyak-banyaknya kepada para pihak yang telah berkontribusi untuk mengadakan simposium ini khususnya kepada Pak Anton, selaku Ketua Prodi S2 Pendidikan Agama Islam dan Program Manager ICAIOS yang telah menjembatani pelaksanaan kegiatan ilmiah ini", jelas Prof. Syahrizal Abbas.  

Dalam kesempatan yang sama, Prof. Arskal Salim menekankan pentingnya pengembangan riset kolaboratif lintas perguruan tinggi. 

"Kalau sebelumnya fenomena penelitian bersifat kompetitif, maka saat ini dunia penelitian dituntut untuk bersifat kolaboratif. Seperti yang kami lakukan saat ini, maka setidaknya kami bisa menghasilkan tiga buah paper yang saya tulis dengan Prof, Eka Srimulyani dari UIN Aceh dan Dr. Nur Ichwan dari UIN Yogyakarta", tegas ketua LP2M UIN Jakarta ini. 

Dalam kegiatan simposium ini Prof. Arskal Salim memaparkan hasil kajiannya tentang Sharia and The Politics of Dominant Culture in Aceh-North Sumatra Border. Sementara Prof. Eka Srimulyani memaparkan hasil kajiannya The Narrative of Being Chinese in Aceh: Intersectionality of Socio-Cultural and Religious Identities; dan Dr. Moch Nur Ichwan mempresentasikan hasil kajiannya  Faith, Ethnicity, and Illiberal Citizenship: Authority, Identity, and Religious “Others” in Aceh’s Border Areas”.

Secara umum disimpulkan bahwa kajian-kajian tentang Aceh masih merupakan hal yang sangat menarik untuk dilakukan. Oleh sebab itu riset-riset dan publikasi ilmiah secara kolaboratif lintas perguruan tinggi perlu digalakkan.

Admin Pasca

0 Komentar